Rabu, 27 Agustus 2014

Merindukan Kebersamaan

Senja dikala itu sangatlah indah, langit yang berubah warna menjadi kuning kemasan bagaikan permadani yang tak ada ujungnya, pada saat yang sama aku melihat seorang yang tengah ansyik bercanda dengan ombak tanpa ada ras takut terbawa olehnya, tidak ada yang istimewa dengan apa yang ia lakukan namun kebebasan yang ada dalam raut wajahnya yang manis sangatlah terasa bersama kedua orang tan sauuanya dan saudaranya laki-laki. Sungguh pemadangan yang jarang aku temui di desa itu, kebahagian terpancar indah disana tanpa ada luka sedikit pun

Aku teringat bahwa aku sendiri tidak merasakan hal demikian, bukannya tidak pernah sama sekali tapi aku lupa kapan terakhir aku mersakan sungguh sudah sangat lama bisa di katakan demikian, oranng tua masih ada semuanya dan aku memiliki satu saudara laki-laki namun semenjak aku kecil aku tak pernah merasaka bagaimana rasanya  di peluk ayah dan bunda dalam waktu yang sama. Ternyata bukan aku saja yang merasakan demikian saudara ku juga tapi ia masih bisa tersenyum meski hanya ilusi menurut, jauh dlam lubuk hatinya ia merasakan sakit yang amat sangat sampai-sampai air mata telah mengering dengan sendirinya. 

Brakk! ! ! ! ! Suara pintu di buka dengan paksa, aku sangat hafal siapa orang yang melakukan demikian selain saudara ku 
"ada apa peter, bisakah kau masuk dengan permisi" ucap ku ketus 
"Kenapa kau tidak suka dengan yang barusan ku lakukan. Kamu memang begitu dari dulu selalu mengatakan hal yang sama, sampai bosan aku mendengarnya" 
"Ada perlu kau datang kesini, apa aku melakukan kesalahan pada peter."
"Tiidak juga aku hanya ingin berada di dekat mu untuk hari ini karena aku besok akan pergi dan kau akan sendirian disini" kata peter dengan nada yang berat 

Aku hanya terdiam, tanpa banyak kata yang keluar. Sudah lama peter ingin pergi bukan pergi karena ingin meninggalkan ku tapi ia pergi untuk bekerja aku dengar dari bunda semalam peter mendapatkan pekerjaan di luar kota dimana pasti aku sendiri juga nggak tahu. 
"Siren aku titip bunda sama kamunya, kalau ada apa-apa dengan kau ataupun bunda kasih tahu. Aku akan selalu menghubungi setiap harinya walau hanya lewat pesan singkat, kalau laki-laki itu datang kesini jangan sampai melukai bunda dan kamu, kau jangan temuui dia siren orang itu hanya bisa membuat kita semakin terluka, kau tahu keadaan bunda gimana selama bersama dia dan kau juga tahu bagaimana dia memerlakukan kita sebagai anaknya. Aku tahu ia adalah bagian dari tubuh  kau dan aku namun apakah layak demikian menyandang setatus seoarang ayah untuk kita?" peter menekan kalimat yang terakhir dengan nada yang tinggi 

"kak aku tahu bagiamana  perasaan kaka aku juga merasakan demikina namun apakah aku sanggup jika kau jauh dari ku peter, setiap waktu kita habiskan bersama dari kita kecil hingga kini kita dewasa, dan soal bund kalau itu kau jangan kawatir akan menjaga bunda baik percayalah aku nggak akan membuatnya terluka untuk yang kesekian kalinya."
Ke esokan di saat siren bangun dari ketenganya ia tak lagi mendapatkan peter di rumah itu, tak layak di sebut rumah memnurut ku karena gubuk reot yang termakan bukan kami memang berasal dari keluarga jauh dari kata cukup, kepergian ayah setahun yang meninggal luka dan tawa dalam waktu yang samaan, luka karena ia pergi entah kemana dan meninggalkan banyak hutang disana sini dan tawa karena kami semua bebas dari kekerasan yang terjadi hampir setiap hari 

Bunda adalah orang yang membuat dan peter kuat menjalani semua cobaan yang ada, kasian bnda kini badanya kurus kering bagaikan tulang terbungkus kulit ari. Bukanya bunda tidak penah makan namun beaban yang ia beban sangatlah berat. Belum lagi tetangga hanya bisanya hanya mengejat yang tidak baik saja sengguh aneh selalu ikut campur dan ingin tahu masalah orang lain saja 

"Siren kok begong loe kangen sama siapa?" Suara peter mengagetkan ku 
"peter kamu kapan datang, nggak aku hanya kangen sama kebersamaan kita yang dulu peter." sambil menunjuk pada seseorang yang berada tak jauh dari tempatnya 
peter tak menjawab  apa yang yang di katakan adeknya karena ia sendiri pun tidak tahu kapan semua kan terulang kembali dan tak mungkin akan terulang kembali karena peter sendiri tidak tahu dimana ayah dan bundanya telah meninggal setahun yang lalu setelah dirinya sukses dan menikah kemudian menetap di bandung. Peter sangat bahagia sebelum bundanya pergi ia tekah membahagiakanya dengan sangat baik dengan tempat tinggal yang layak 

Kini bisa hidup dengan bahagia dengan istri dan adeknya keluarga yang masih ia miliki, peter tak akan pernah lupa dengan apa yang telah ia jalani  pada mas lalunya dan itu sangatlah mennyaktkan namun kini smeua telah terbayar denagan indah, apa yang ia rintis dari dari nol kini berlahan merangkak dan telah berada pada puncak kesuksesannya. peter tahu bagaimana rasanya hidup dalam keterbtasan tapi kini semua telah berakhir 

"Hidup memang terkadang tak adil, di saat kita berada di bawah semua menghina tanpa ada rasa kasian sedikit pun tapi di saat kita berasa dalam puncak kesuksesan semua orang mendekati kita dengan tujuan yang kita sendiri tak tahu akhirnya"  Peter Kritian 

Rannie Ulan


Tidak ada komentar:

Posting Komentar