Minggu, 16 November 2014

Bayangan

Aku bertanya. Di dalam gelap. Kemana bayanganku? Kenapa mereka semua mempunyai bayangan. Sedangkan aku tidak. Jangankan makhluk hidup. Benda matipun mempunyai bayangan. Mereka semua mempunyai bayangangannya. Aku tidak? Aku mencari. Aku terus mencari. Kemana bayanganku? Aku mencari bayangan. Ditengah pagi. Ditengah siang. Ditengah sore. Ditengah senja. Ditengah malam. Tapi bayanganku tetap saja tak ada. Kemana ia?


***
Aku bertanya. Masih di dalam gelap. Aku masih mencari bayanganku. Tak peduli aku tengah di mana. Aku juga hampir sama dengan mereka. Aku punyai dua mata. Dua telinga. Aku punya dua tangan. Dua kaki. Tapi, kemana bayanganku? Kenapa masih belum saja ada? Aku berlari. Mencari bayangan. Aku lelah. Jantungku berpacu lebih cepat. Kenapa aku masih belum saja ketemu?
***
Aku bertanya. Masih di dalam gelap. Kemana bayanganku? Siapakah aku? Kenapa mereka semua punyai bayangan? Sedangkan aku tidak. Aku? Siapa aku? Aku adalah makhluk hidup. Tapi kenapa aku tak mempunyai bayangan. Sedangkan semua makhluk hidup mempunyai bayangannya masing-masing. Jangankan makhluk hidup. Benda mati pun mempunyai bayangannya. Kenapa aku tidak? Aku masih mencari bayanganku.

***
Aku bertanya. Saat aku hampir diambang keputus asaan. Tiba-tiba seberkas sinar muncul aku tak lagi di dalam gelap. Ada jemari yang mengangkat tubuhku. Yang mengeluarkanku di dalam kegelapan. Aku kini bertemu sinar. Cahaya. Aku tak lagi di dalam gelap. Jemari telah mengeluarkanku dari rahim ibuku. Aku bahagia. Sebab kini aku telah bertemu dengan bayanganku. Ya. akhirnya. Aku pun mempunyai bayangan. Sudah ku bilang. Aku makhluk hidup. Benda mati saja punya bayangan. Aku pun pasti punya. Aku bertemu bayangan. Yang lelah ku kejar. Yang lelah ku cari. Tak kutanya lagi. Kemana bayanganku? ...

Singkawang, 9 Agustus 2014

14:53 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar