Aku
bertanya. Di dalam gelap. Kemana bayanganku? Kenapa mereka semua mempunyai
bayangan. Sedangkan aku tidak. Jangankan makhluk hidup. Benda matipun mempunyai
bayangan. Mereka semua mempunyai bayangangannya. Aku tidak? Aku mencari. Aku
terus mencari. Kemana bayanganku? Aku mencari bayangan. Ditengah pagi. Ditengah
siang. Ditengah sore. Ditengah senja. Ditengah malam. Tapi bayanganku tetap
saja tak ada. Kemana ia?
***
Aku
bertanya. Masih di dalam gelap. Aku masih mencari bayanganku. Tak peduli aku
tengah di mana. Aku juga hampir sama dengan mereka. Aku punyai dua mata. Dua
telinga. Aku punya dua tangan. Dua kaki. Tapi, kemana bayanganku? Kenapa masih
belum saja ada? Aku berlari. Mencari bayangan. Aku lelah. Jantungku berpacu
lebih cepat. Kenapa aku masih belum saja ketemu?
***
Aku
bertanya. Masih di dalam gelap. Kemana bayanganku? Siapakah aku? Kenapa mereka
semua punyai bayangan? Sedangkan aku tidak. Aku? Siapa aku? Aku adalah makhluk
hidup. Tapi kenapa aku tak mempunyai bayangan. Sedangkan semua makhluk hidup
mempunyai bayangannya masing-masing. Jangankan makhluk hidup. Benda mati pun
mempunyai bayangannya. Kenapa aku tidak? Aku masih mencari bayanganku.
***
Aku
bertanya. Saat aku hampir diambang keputus asaan. Tiba-tiba seberkas sinar
muncul aku tak lagi di dalam gelap. Ada jemari yang mengangkat tubuhku. Yang
mengeluarkanku di dalam kegelapan. Aku kini bertemu sinar. Cahaya. Aku tak lagi
di dalam gelap. Jemari telah mengeluarkanku dari rahim ibuku. Aku bahagia.
Sebab kini aku telah bertemu dengan bayanganku. Ya. akhirnya. Aku pun mempunyai
bayangan. Sudah ku bilang. Aku makhluk hidup. Benda mati saja punya bayangan.
Aku pun pasti punya. Aku bertemu bayangan. Yang lelah ku kejar. Yang lelah ku
cari. Tak kutanya lagi. Kemana bayanganku? ...
Singkawang, 9 Agustus 2014
14:53 WIB

Tidak ada komentar:
Posting Komentar