2. Aku kirimkan patahan-patahan angin sebagai isyarat, yang entah
dapat kau pahami atau kau anggap ilusi.
3.
Kau
berkata: “Bodohnya aku tak dapat membaca pertanda”
Maka jangan
takut, ada beberapa burung merpati membawakan pertanda-pertanda untukmu.
4.
Udara
dingin seperti hujan. Ketika kau begitu dingin menjatuhkan patahan-patahan hujan.
5.
Meneruskan
setiap seruput teh hangat sebagai pelarut mimpi kita, menjaganya tetap hangat. Walau
perjalanan yang cukup jauh.
6.
Memutar
baling-baling kapal hingga dapat melaju sampai pada destinasi mimpi kita. Menjaga
kapal , walau di terpa ombak ganas sekalipun.
7.
Terlihat
berkilo-kilo meter kau berdiri disana, entah apa yang kau tunggu. Mungkin sebuah
kiriman permen kapas hadiah ulang tahunmu di bulan Januari.
8.
Jika
kau kelak menjadi angin yang sebenar-benarnya, berjanjilah jangan pernah mengirimiku
angin gigil hingga buatku masuk angin.
9.
Jika
kau kelak menjadi mega yang sesungguhnya, maka berjanjilah jangan membenci
manusia melankolis sepertiku.
10. Sampai pada
kalimat terakhir. Aku akan menunggumu hingga waktunya tiba. Dan, entah seberapa
lama aku menunggu. Mungkin hingga kelopak mawar gugur kemudian sukma menjadi
debu.
Bekasi, 2014
de Sabrini

Tidak ada komentar:
Posting Komentar