Selasa, 26 Agustus 2014

Narasi untuk Angin

1.      Kau biarkan kata berceloteh sesukanya. Menelisik setiap celah jendela semesta tentang kita. Meneruskan tiap-tiap bait cerita yang tak pernah mengenal mula.

2.     Aku kirimkan patahan-patahan angin sebagai isyarat, yang entah dapat kau pahami atau kau anggap ilusi.


3.      Kau berkata: “Bodohnya aku tak dapat membaca pertanda”
Maka jangan takut, ada beberapa burung merpati membawakan pertanda-pertanda untukmu.

4.      Udara dingin seperti hujan. Ketika kau begitu dingin menjatuhkan patahan-patahan hujan.

5.      Meneruskan setiap seruput teh hangat sebagai pelarut mimpi kita, menjaganya tetap hangat. Walau perjalanan yang cukup jauh.

6.      Memutar baling-baling kapal hingga dapat melaju sampai pada destinasi mimpi kita. Menjaga kapal , walau di terpa ombak ganas sekalipun.

7.      Terlihat berkilo-kilo meter kau berdiri disana, entah apa yang kau tunggu. Mungkin sebuah kiriman permen kapas hadiah ulang tahunmu di bulan Januari.

8.      Jika kau kelak menjadi angin yang sebenar-benarnya, berjanjilah jangan pernah mengirimiku angin gigil hingga buatku masuk angin.

9.      Jika kau kelak menjadi mega yang sesungguhnya, maka berjanjilah jangan membenci manusia melankolis sepertiku.

10. Sampai pada kalimat terakhir. Aku akan menunggumu hingga waktunya tiba. Dan, entah seberapa lama aku menunggu. Mungkin hingga kelopak mawar gugur kemudian sukma menjadi debu.

Bekasi, 2014
de Sabrini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar