Oleh : YENI HERLIANA YOSHIDA
Dewasa kini perkembangan teknologi semakin pesat dan
tidak data dipungkiri lagi bahwa kini teknologi telah menguasai dunia. Sebagai
salah satu contohnya perkembangan teknologi pertelevisian. Hampir semua orang
memilliki televisi,dengan televisi kia dapat menyaksikan acara yang
kita suka. Salah satunya adalah sinetron. Hampir disetiap stasiun televisi
menayangkan sinetron. Dari pagi sampai malam selalu ada sinetron.
Sinetron-sinetron yang kini banyak ditayangkan adalah sinetron remaja yang pada
umumnya menceritakan tentan percintaan. Masa remaja adalah masa transisi dan
ingin mulai banyak tahu. Namun sayangnya tayangan televisi yang kurang pas
untuk remaja bisa mengakibatkan dampak buruk terhadap perkembangan psikologis
remaja. Contohnya banyak terdapat pada sinetron remaja. Umumnya pada sinetron
remaja lebih banyak menceritakan tentang percintaan daripada kehidupan
disekolah. Sehingga yang banyak di expose nya adalah kehidupan berpacaran dalam
remaja bukan kegiatan disekolahnya
.
ini tentu dapat menimbulkan efek yang kurang baik bagi remaja. Selain percintaan nilai buruk yang ditonjolkan dari sinetron remaja adalah perilaku bullying. Banyak sinetron remaja yang menampilkan perilaku bullying. Contohnya permusuhan,ejekan,kejahilan yang beujung petaka. Maka tidak heran jika disuatu sekolah kita masih banyak menemukan kasus perbullyan yang berujung petaka. Dan rata-rata kasusnya dilakukan oleh remaja, remaja memang mudah dipengaruhi karena secara psikologis emosi remaja masih terbilang labil. Selain itu masih banyak nilai-nilai negative terhadap sinetron remaja. Contoh lainnya gaya berpakaian, berbicara, dan berperilaku.
.
ini tentu dapat menimbulkan efek yang kurang baik bagi remaja. Selain percintaan nilai buruk yang ditonjolkan dari sinetron remaja adalah perilaku bullying. Banyak sinetron remaja yang menampilkan perilaku bullying. Contohnya permusuhan,ejekan,kejahilan yang beujung petaka. Maka tidak heran jika disuatu sekolah kita masih banyak menemukan kasus perbullyan yang berujung petaka. Dan rata-rata kasusnya dilakukan oleh remaja, remaja memang mudah dipengaruhi karena secara psikologis emosi remaja masih terbilang labil. Selain itu masih banyak nilai-nilai negative terhadap sinetron remaja. Contoh lainnya gaya berpakaian, berbicara, dan berperilaku.
Yang pertama cara
berpakaian. Dalam sinetron remaja yang didominasi adalah berpakaian seragam.
Nah yang menjadi masalahnya adalah ketika berpakaian seragam, rata-rata tidak
memperlihatkan cara berpakaian yang baik dan benar sebagaimana mestinya seorang
pelajar. Di sinetron remaja pakaian seragam atau rok perempuan itu hampir
semuanya pendek dan terkadang ketat. Kemeja seragam dikeluarkan (semestinya
dimasukan dan rapih) lalu terlihat ketat sehingga untuk pelajar perempuan
secara tidak langsung memperlihakan bentuk tubuh. Rambut di cat, ke sekolah
membawa alat make up dan berdandan
ria. Apakah itu mencerminkan pelajar yang baik dan disiplin ? Anda tentu tahu
jawabannya. Lalu penampilan seragam laki-laki yang tidak jauh berbeda dengan
penampilan seragam perempuan. Celana seragamnya ketat, kemeja seragam
dikeluarkan dengan kerah dibiarkan berdiri, lalu lengan kemeja dilipat
(terlihat seperti remaja yang membangkang), rambut digaya Mohawk, memakai kalung rantai, dan terkadang di tindik. Sungguh
miris jika remaja berpendidikan tak jauh berbeda seperti remaja tidak
berpendidikan.
Yang kedua adalah cara
berbicara. Ini juga penting, karena semakin banyak sietron remaja yang
memperkenalkan bahasa-bahasa baru yang dibilang menyimpang dari bahasa
Indonesia asli. Contohnya seperti “santai aja keles!”, “kamseupay iyuwh”, “OMG,
hello!”, “parah bingits” dan masih banyak lagi kata-kata yan sudah pasti tidak
ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Dan yang ketiga adalah
cara berperilaku. Dalam sinetron remaja, perilaku-perilaku yang ditampilkan
sangat bertolak belakang dengan perilaku pelajar yang sebagaimana mestinya.
Contohnya seperti persaingan. Persaingan disini bukan persaingan untuk meraih
prestasi atau penghargaan yang bermanfaat baik dari akademik ataupun non
akadimik. Tetapi persaingan yang ditonjolkan adalah persaingan untuk
mendapatkan pacar, ketenaran / popularitas yang berujung pada perbullyan dan
permusuhan. Lalu cara bersikap kepada orang tua sama sekali tidak ada etikanya.
Seperti ketika sedang dinasihati oleh orang tua, banyak yang menampilkan anak
lebih hebat dan serba tahu daripada orang tuanya. Sehingga banyak yang melawan
kepada orang tua ketika dinasihati.
Kalau tayangan sinetron
remaja seperti ini terus, bagaimana jadinya moral anak bangsa jika dengan
mudahnya dipengaruhi sinetron-sinetron remaja yang kurang mendidik ?
Orang tualah yang
berperan penting terhadap perkembangan anak, termasuk memilihkan tayangan yang
baik untuk putera-puterinya. Jika memang ingin menampilkan sinetron remaja,
tampilkanlah yang positif. Seperti perilaku bersaing yang baik. Bukan bersaing
untuk mendapatkan pacar dan popularitas, tetapi bersaing secara sehat untuk
mendapatkan pretasi dan nilai yang bagus tanpa per bullyan dan kekerasan.
Kegiatan disekolah harus dierbanyak seperti kegiatan belajar-mengajar,
perlombaan cerdas cermat, dan kegitan positif lainnya. Lalu dari cara bicara
dan perilaku, tunjukkanlah etika yang baik dan terpuji agar menjadi contoh yang
baik bagi remaja dalam bertindak dan beretika. 
Tidak ada komentar:
Posting Komentar